![]() |
| sumber gambar: inmagine.com |
Bukanlah cinta namanya kalau tidak mampu membuat air mata mengalir saat mesti berpisah dengannya. Bukanlah pula cinta, yang tidak mampu menggerakkan lemah menjadi semangat dan rela berkorban.
Karena itulah mengapa cinta akhirnya tak pernah habis untuk dibahas. Karena cinta selalu hadir dengan wajah dan nuansa yang berbeda. Semakin diperbincangkan, maka semakin bertambah dan bertumbuh sajalah rasa yang mengelilingi penampakannya.
Lalu, bagaimana dengan cemburu? Orang bilang, cemburu itu adalah salah satu tanda cinta. Dengan demikian bolehkah dikatakan, saat kita mencinta, maka sejatinya di sisi yang lain kita seperti sedang menanam bibit-bibit cemburu. Tinggallah kita memilih mau membuahkan yang mana? Cinta sejalan dengan cemburu, Cinta dengan menanggalkan cemburu, atau cemburu dengan memusnahkan cinta? Entahlah, yang jelas cinta dan cemburu harus diletakkan pada wadah dan porsi yang semestinya. Salah merawat, salah-salah malah bisa bikin gawat...
Setelah itu timbullah sebuah pertanyaan, bagaimana sih caranya bila ingin melihat perwujudan cinta dan cemburu? Mudah saja jawabannya. Cobalah sedikit tengok dunia pendidikan. Kemudian susuri tiap derai nafasnya, maka kau kan temukan seonggok cinta dan cemburu mengalir di sana. Lalu terhelalah sebuah kalimat "Ahhh... bagaimana bisa pendidikan berjalan tanpa rasa cinta dan cemburu di dalamnya?"
Mencinta Tanpa Minta Dicinta
Pernahkah kita coba membaca langkah yang telah ditorehkan guru kita sebelum dia sampai di hadapan kita? Pernahkah kita coba menyelami apa yang tengah dia rasa? Pernahkah kita menakar segala lelah yang telah dia buat untuk menambah setitik pemahaman dan nilai dalam kepala dan langkah kita? Silakan dijawab dengan penuh rasa cinta atau silakan saja kalau mau dijawab dengan sebuah sangkalan "ahhhh... itukan memang sudah tugasnya. Jadi wajarlah kalau dia melakukan sampai segitunya" Apapun jawabannya, cinta dari seorang guru kepada peserta didiknya takkan pernah bisa dinafikkan.
Kalau kita mau sedikit berkontemplasi. Bertanya dalam diam di antara kejernihan hati. Sebuah sketsa tentang cinta guru kepada peserta didiknya kan tergambar di sana. Lalu mulailah mengalun pertanyaan-pertanyaan di jiwa...
Pernahkah kita membayangkan, bagaimana seorang guru pontang-panting mencari bahan untuk diberikan kepada peserta didiknya? sampai dia rela menyurutkan uang makannya hanya untuk menderma ilmu baru ke peserta didiknya. Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang guru rela begadang hanya untuk mencari cara agar peserta didiknya mudah menelan apa yang dia sampaikan? bahkan sampai dia harus berela mengumpulkan bahan-bahan bekas dari tiap-tiap tong yang menganga. Pernahkah terfikirkan bagaimana cara seorang guru mendesain sebuah tugas agar peserta didiknya lebih cepat menguasai materi yang disampaikannya? Dan pernahkah terfikirkan oleh kita bahwa pencapaian kita selama ini, salah satunya adalah hasil urunan doa sang guru untuk kita. Ada cintakah di sana atau hanya sekedar pelunasan kewajiban saja? Lihat saja penampakkannya, karena cinta tidak bisa disepuh bahkan dengan seulas senyum sekalipun.
Namun apa balasannya? Seulas senyumpun tidak, semisalnya iapun hanya dia yang mengajar kita, selebihnya enggan. Malah kata-kata seperti ini yang sering kita hadiahi untuk mereka: "sebenernya dia bisa ngajar gak sih? kalo gitu doang mah gue juga bisa sendiri kalee" atau "jyaaahhhh... nih orang perasaan kalo ngajar malah bikin gue ngantuk ya? mendingan gue baca langsung dari buku deh daripada dengerin die ngomong..." atau "ini dienya yang pinter, apa guenya yang bego sih?" atau "wa wa wa wuaaaduuuhhhh... nih orang ngasih tugas gak kira-kira. Emang gue belajarnya ama elo doang? emang gue gak ada kerjaan lain apa? dan masih banyak lagi cercaan-cercaan lain. Bila saja kata-kata ini sampai di telinga dan bersemayam di hatinya, apa kira yang kan terasa?
Di antara terpaan caci dan kontroversi guru tetap melangkah. Guru tetap hadir untuk mencinta dengan tidak meminta balas untuk dicinta. Bahkan kala cinta-cinta yang coba dihadirkan dinilai sebagai sebuah kelebayan dan sering terbalas dengan rasa kesal dan sesal...
Namun nyatanya, dia cukup senang kala melihat senyum keberhasilan dari peserta didiknya. Dia cukup bahagia kala melihat kelurusan perilaku yang ditampilkan peserta didiknya. Dia cukup ceria kala melihat lompatan pencapaian yang berhasil diraih peserta didiknya. Cinta tak berharap cinta...
Cemburu itupun Melagu
"Coba kamu jangan ngobrol melulu kalau saya lagi menjelaskan" atau "Hapenya coba dimatikan dulu, biar perhatian kamu tidak terbagi kemana-mana"... dan ujaran-ujaran lain yang menginginkan supaya perhatian peserta didiknya hanya terpusat padanya. Tidaklah dia mau perhatian peserta didiknya bergeser selain darinya. Itukah cemburu? kala dia merasa sudah diduakan, ditigakan, bahkan dimultikan dengan yang lain.
Rasa itu memang selalu melagu kala peserta didiknya sudah menjajakan perhatian kepada selain darinya. Lebih menfokuskan perhatian selain dari padanya. Dan asyik bermain-main dan bercengkrama dengan kotak komunikasi yang dimiliki peserta didiknya.
Lagi-lagi dia melakukan itu bukan karena dia iri terhadap apa yang membuat perhatian peserta didik tercurah kepada selain darinya, tapi lebih karena rasa cintanya yang membahana. Yang tidak mau ada sedikit tahapan kata yang hilang untuk ditelan peserta didiknya. Tidak mau kita terlambat memahami apa yang dia sampaikan. Dan akhirnya diapun mencemburu karena mencinta...
Setelah ini, sekiranya kata apa yang pantas terulas dan terbingkiskan untuk guru-guru kita? Yaaahhh... bagaimana mau melantunkan kata, bila hendak bertemu muka saja kita lebih sering mencari jalan beda agar tak jumpa. Senyumpun masih sulit tersaji untuk mereka, bahkan kala mereka mensenyumi kita terlebih dahulu.
Ahhh... sudah secompang-campingkah rasa cinta kita untuk mereka???
*untuk semua guru-guruku... terima kasih sangat untuk ilmu, doa, dan senyumannya

No comments:
Post a Comment
Boleh komentar yang SERU, asal JANGAN saru dan bawa-bawa penghuni kebun binatang ya....