Friday, September 18, 2015

Benarkah Kita adalah Buku?

sumber gambar: inmagine.com
Apa sesungguhnya yang kita harapkan kala berjabatan dengan buku? Mendapatkan ilmu, rekreasi batin, sekedar persinggahan pelepas lelah, atau malah ketiga hal tersebut menyimultan jadi satu? Silakan dijawab dalam diam, menggumam, atau teriakan (itu juga bila kau tidak malu :D). Yah di atas itu semua, yang jelas
buku hadir untuk mengusung kebermanfaatan. Tinggallah kita sebagai pemakai yang menentukan mau meneguknya sampai sebatas apa.
Sampai sekedar menghilangkan kering di bibir atau malah sampai mengeringkan wadahnya. Beda pilihan, beda konsekuensi.

Sekarang cobalah kita berdiam sejenak lalu cobalah sebentar saja bercermin. Tidakkah kita bagai sebuah buku? Mari sekarang sama-sama kita rentangkan diri kita dan mari sama-sama kita telusuri diri kita masing-masing. Benarkah analogi tersebut? Bila tidak sepakat, silakan temukan analogi yang tepat. Toh, selalu ada ruang untuk bermusyawarah bukan?


Covermu bukan Coverku
Don't judge a book by its cover, but please judge a book by its explotion. Pepatah yang sudah dimodifikasi ini paling tidak dapat menggambarkan bahwa janganlah menilai buku hanya dari sampulnya aja, tapi lihatlah dari ledakannya

Saat berinteraksi, banyaklah ditemukan penampang luar sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Namun, tidak sedikit pula kita temukan orang yang memiliki penampilan menipu. Maksudnya; ada yang terlihat serius namun setelah diajak ngobrol ternyata ngocol dan ada yang penampakannya lucu namun setelah diajak ngobrol garing abis. Hal yang dikatakan terakhir inilah yang perlu dimaknai lebih dalam. Salah-salah malah bikin masalah.

Point yang ingin ditampilkan dari gambaran tersebut adalah cobalah sedikit bijaksana dalam menilai orang. Jangan sampai baru melihat sekelebat, tapi sudah mampu mengeluarkan banyak kata untuk terlibat.


Daftar Isi atau Mengisi Daftar?
Cara mudah untuk mengetahui apa yang ada dalam buku secara singkat adalah dengan melihat daftar isinya. Lalu bila setelah dilihat, ada hal yang tidak ditemukan apakah bisa kita mengisi daftarnya? Bisa saja, tapi janganlah heran bila isi di dalamnya tetap sama. Mengapa? Karena posisi kita di sana adalah sebagai pengguna bukan penulisnya. Dan bila muncul kritik dari pengguna akan banyaknya isi yang masih lowong, tidaklah serta merta penulis mengatakan: "isi di luar tanggung jawab penulis". Berani menghadirkan, mesti berani mempertanggungjawabkan.

Sekarang yang jadi pertanyaan, bilakah hal tersebut dianalogikan dengan kita sebagai manusia?

Setiap manusia unik, tidak ada yang sama persis antara satu dengan lainnya. Bahkan untuk kembar identik sekalipun. Dan semakin menjadi berbeda kala orang tersebut sudah berinteraksi dengan lingkungannya. Bila melongok ke ilmu psikologi, memang ada 3 hal yang mempengaruhi tumbuh kembang seseorang, yaitu nature, nurture, dan nutrisi.

Dan disadari ataupun tidak dalam setiap berinteraksi kita selalu melist apa yang ada pada lawan aksi kita. Setelahnya kitapun seperti membuat blueprint, akan hal-hal apa yang ingin kita isi untuknya. Karena lagi-lagi mau disadari atau tidak, sebenarnya interaksi adalah proses saling mempengaruhi. Baik itu hal baik ataupun sebaliknya. Tinggallah di sini adu kuat, yang kuat mengisi dan yang lemahpun terisi. Syukur kalau kita terisi dengan yang baik, bagaimana kalau sebaliknya?

Janganlah mau berela hati untuk menjadi korban interaksi. Jangan terwarnai, lebih baik mewarnai. Namun bilapun akhirnya tak mampu mewarnai, tetaplah hadirkan cerah warna asli. Dan biarkan Sang Maha yang nantinya kan memainkan akan seperti apa perwujudannya.


Isi Mengisi Isi
Subtitle tersebut mungkin akan agak rumit untuk dicerna otak. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya subtitle tersebut dibentuk dari kata yang sama, hanya yang tengah ada imbuhannya, yang lainnya tidak.

Kata-kata kita adalah patung yang tidak bernyawa, sampai kita mati karenanya barulah ia bermula hidup. Demikianlah kira-kira kalimat yang pernah diujarkan oleh Sayyid Qutbh. Lalu apa hubungannya dengan bahasan ini?

Benarlah bila ada ungkapan, berbicara itu jauh lebih mudah daripada melakukan. Dan jauh lebih sulit lagi kala mensinkronkan antara gerak bibir dengan gerak laku. Perlu integritas untuk menyinkronkan itu semua. Dimana semangat ucap sama derapnya dengan semangat gerak. Namun, bukankah berucap juga merupakan sebuah gerak?

Isi adalah sari pati yang sesungguhnya ingin dinikmati oleh para pembaca. Isilah yang menentukan bobot dari buku tersebut. Isilah yang nantinya menguatkan atau malah menjungkirbalikkan apa yang tertera dalam cover. Lebih baik gemuk isi tapi gemuk manfaat, daripada kurus isi tapi kurus manfaat. Hal tersebut senafas dengan pepatah arab yang kira-kira terlantun seperti ini: lebih baik menjadi kitab tanpa judul daripada banyak judul namun tanpa kitab.

Bila kita sebuah buku, jadilah buku yang bermanfaat, menyenangkan, menentramkan, dan bukan malah menyesatkan. That's all...


Rujukan yang Harus Dirujuk
Salah satu hal yang mempengaruhi isi adalah sumber yang dijadikan rujukannya. Semakin berbobot rujukannya, maka akan semakin meningkat saja selling point dari buku tersebut.

Sekarang bagaimana dengan kita sebagai manusia? Muslim pula. Alquran dan Sunnah, itu jawabannya. Dapatlah dikatakan semakin kita mengamalkan keduanya, maka semakin berbobotlah kita. Berbobot di mata manusia, lebih-lebih di mata ALLAH. Dan bukanlah hal yang mustahil bila nantinya ada orang yang semakin mengingat Tuhannya hanya dengan melihat wajah kita. Seperti yang tercantum dalam hadits riwayat Imam Bukhori berikut ini: "Maukah kalian kukabarkan orang-orang terbaik di antara kalian?, mereka adalah yang jika dipandang wajahnya membuat orang mengingat ALLAH".

Ah, betapa indahnya kala berinteraksi dengan mereka yang mampu membiaskan cahayaNYA. Sudahlah barang tentu kita mau berlama-lama membersamainya. Betah untuk menikmati setiap lantunan kata syahdu penuh hikmah yang keluar dari lisannya. Subhanallah... Adakah wujudan yang indah selain diisi oleh Alquran dan Sunnah?


Meriwayatkan yang Hidup
Setiap kalimat pasti ada titiknya. Setiap buku pasti ada halaman akhirnya. Begitupun dengan manusia, dia pasti akan berakhir, mati.

Riwayat hidup bisa dikatakan dapat dijadikan sebuah pertanda bahwa sebuah buku usai. Mengapa demikian? Karena riwayat hidup biasa diletakkan di belakang bukan di depan.

Siapa yang meriwayatkan bila manusia usai? Ada dua kemungkinan, kita sebagai pelaku sejarah sendiri yang mencatatkannya atau orang lain yang akhirnya berela hati untuk mencatatkannya. Dan setiap kita kan memiliki panjang pendek periwayatan yang berbeda, tergantung sepanjang apa langkah yang kita torehkah sebelum mati.

Semoga yang tertoreh bukan lebih karena ketenaran dunia semata. Biarlah tidak tenar di bumi, tapi usahakan dan relakan diri untuk dapat tenar di langit.


Demikianlah 5 bagian buku yang dapat dianalogikan dengan kita sebagai manusia. Sebelum tulisan ini di akhiri, ada sedikit catatan yang perlu ditambahkan, bahwa tiap kita memiliki gaya membaca yang berbeda. Ada yang runut dari awal sampai akhir, ada yang bacanya dari depan, ke belakang, ke tengah terus ke depan lagi, dan ada yang dari belakang baru berlari ke depan. Tidak ada larangan, sah-sah saja. Yang paling penting dari semua perbedaan itu adalah persamaannya, yaitu sama-sama dalam rangka usaha memahami isi untuk mengantongi manfaat. Dan agar mendapat pemahaman secara utuh dan manfaat yang berlimpah, amatlah bijaksana bila nantinya tidak ada ruas yang terlewat dari pandang kita.

Namun manusia bukanlah buku dan buku pastilah bukan manusia. Buku akan selalu tetap isinya, berapa kalipun kita baca. Sedangkan manusia, selalu ada saja edisi revisinya setiap kali kita membacanya. Sebab manusia makhluk dinamis. Dia akan terus bertumbuh untuk memenuhi tugas-tugasnya sebagai hamba di muka bumi. Dengan demikian, tiadalah ada kata akhir untuk terus membacai dan mengacai diri sebelum kita mati...


Wallahu'alam...

----------------------------------
*Bisa membaca hatimu adalah sebuah kenikmatan. Berusaha untuk terus dapat membacamu berulang adalah sebuah kebijaksanaan. Berupaya untuk menjaga dan mengharumkan isi bacaanmu adalah sebuah kecintaan...*

No comments:

Post a Comment

Boleh komentar yang SERU, asal JANGAN saru dan bawa-bawa penghuni kebun binatang ya....